banner 728x250

BAPPENAS Tinjau Sekolah Lapangan  IPDMIP Kabupaten Lima Puluh Kota

  • Share
banner 468x60

Sitinjausumbar.com – Bappenas tinjau pelaksanaan Sekolah Lapangan proyek pengembangan dan manajemen irigasi partisipatif terintegrasi (Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program (IPDMIP), Jumat (17/6/2022),  dalam rangka monitoring dan evaluasi perkembangan implementasi kegiatan IPDMIP di. Nagari Taram, Kecamatan Harau  dan Nagari Ampalu, Kecamatan Lareh Sago Halaban Kabupaten Lima Puluh Kota.

Koordinator Tim Zulfriandi manyampaikan  IPDMIP berakhir tahun 2023, namun implementasi di lapangan sudah harus selesai tahun 2022. Dari hasil review,  serapan anggaran Kabupaten Lima Puluh Kota masih kecil, kurang lebih Rp 2,6 M, atau sekitar 36 %  dari alokasi hibah senilai Rp 7,33 Milyar. Upaya percepatan implementasai di lapangan baru terlihat pada periode akhir proyek. Kecilnya serapan ini, tidak hanya terjadi di Kabupaten Lima Puluh Kota. Secara nasional, diakui serapan masih rendah.

banner 336x280

Dikatakan, di Kabupaten Lima Puluh Kota, periode tahun 2018 – 2020, alokasi DPA kurang lebih Rp 230 s/d 280 juta. Secara persentase, serapan sebelum tahun 2021 sekitar 10 persen dari alokasi hibah. Tahun 2021, Alokasi dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) mencapai Rp 2,3 milyar. Dan, DPA tahun 2022 kurang lebih Rp. 4,877 milyar. Jika alokasi tahun ini terealisasi 100 persen, maka serapan anggaran Kabupaten Lima Puluh Kota dari alokasi hibah baru mencapai 79 persen. Masih akan nada saldo kurang lebih Rp. 1.52 milyar atau kurang lebih 21 persen.

Dari hasil review antara BAPPENAS dan Kementerian Pertanian, ada opsi untuk peranjangan program IPDMIP. Namun ini semua tergantung dari fakta dan kondisi lapangan. Untuk itu, BAPPENAS melakukan kunjungan lapangan guna melihat output dan dampak dari kegiatan Sekolah Lapangan serta keterkaitannya dengan rehabilitasi irigasi yang telah dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, katanya.

Wali Nagari Taram Defrianto menjelaskan di Nagari Taram banyak alih fungsi lahan pertanian sawah menjadi lahan pertanian kering atau ladang. Hal ini dampak dari tidak tercukupinya kebutuhan air untuk lahan pertanian padi. Sementara sumber air mencukupi, hanya saja bendungan dan jaringan irigasi yang bermasalah. Umumnya sumber air irigasi Nagari Taram dari Batang Mungo. Walau pada tahun 2020 sudah ada rehab bendung melalui program IPDMIP. Namun, hal itu belum meningkatkan layanan kebutuhan air yang mencukupi untuk pertanian padi sawah. Di Jorong Subarang, lahan sawah seluas 100 Ha sudah menjadi lahan tadah hujan. Petani hanya bias tanam padi 1 kali dalam satu tahun. Daerah ini merupakan aliran irigasi Batang Tabik yang menjadi kewenangan propinsi. 

Saat ini luas lahan sawah fungsional kurang lebih 600 Ha. Sebelumnya sekitar 1.000 Ha. Terjadi alih fungsi seluar 400 Ha. Kendati demikian,  masih kita syukuri, alih fungsi ini tidak ada yang menjadi pemukiman. Kalaupun ada masih sangat kecil. Sebab masyarakat nagari Taram sangat mengutamakan sumber ekonomi dari sektor pertanian.

“Sekitar tahun 2016, air untuk sawah berkurang, masyarakat tidak mau mengolah lahan. Tahun 2017 pemerintah Nagari Taram membuat program pengembangan jagung. Semenjak itu, petani lebih merasa nyaman dengan tanam Jagung. Selain itu, banyak juga lahan sawah tidak dapat dikembangkan karena tidak terlayani air irigasi. “Jika ini tidak diatasi, tinggal menunggu waktu, jika kelembagaan dan sarana irigasi tidak mendukung. Lahan di Nagari Taram banyak dilirik investor,” keluh Defrianto.

Kondisi serupa juga dialami petani di Nagari Ampalu, Daerah Irigasi Banda Baliak Sariak. Luas fungsional sawah kurang lebih 484 Ha. Di wilayah Jorong Guguak, sawah selalus 20 Ha belum terlayani air irigasi dari jaringan Banda Baliak Sariak. Walau tahun 2021 sudah ada rehab melalui IPDMIP. Namun kebutuhan air untuk areal persawahan belum tercukupi. Permasalahan lain, sedimen di bendung irigasi yang hampir penuh dan sangat mendesak dilakukan pengerukan. Selain itu, jaringan irigasi masih banyak yang rusak. Karena gangguan kepiting yang melobangi jaringan sehingga tingkat kehilangan air cukup tinggi,

Selain menangkap issu soal layanan irigasi, Tim Monev BAPPENAS juga meninjau dampak kegiatan Sekolah Lapangan terhadap petani. Pitra Andalia, ketua kelompok tani Babaliak Kadangau Nagari Taram, dihadapan tim Bappenas memaparkan pengetahuan dan keterampilan budidaya Jagung yang diperolehnya selama mengikuti Sekolah Lapangan. Diakuinya, Poktan Babaliak Kadangau baru tahun 2022 ini terlibat sebagai pelaksana SL IPDMIP. Dan, teknologi jarwo sisip dengan cara tanam zig zag, merupakan hal yang baru bagi petani di nagari Taram. Dari pengalaman saat tanam, sistim ini lebih menigkatkan populasi tanaman per hektar. Pada umur Jagung 56 HST—tanam tanggal 22 April 2022—tampak dari pengamatan bahwa sinar matarhari lebih banyak masuk ke lahan dan menyinari tajuk jagung, tidak terhambat oleh daun jagung yang saling menaungi bila ditanam lurus dan berjajar. Soal produktifitas, Pitra Andalia, mengaku belum tahu karena system ini baru sekarang diterapkan.

Dampak SL ini juga dikemukan anggota Poktan dan penyuluh Swadaya Nagari Ampalu. Poktan Sinar Pagi, sebagai salah satu pelaksana SL IPDMIP tahun 2022 ini, menerapkan SL penangkaran benih dengan system tanam jarwo 2:1. Dipilihnya kegiatan penangkan benih oleh Poktan Sinar Pagi, karena melihat peluang masih banyak petani yang belum menerapkan pemakian benih unggul bersertifikat. Terutama di nagari Ampalu dan Kecamatan Lareh Sago Halaban pada umumnya. Dengan diperolehnya keterampilan sebagai penangkar benih ini, Poktan Sinar Pagi berharap kedepannya bisa mengembangkan kegiatan poktan dalam usaha penangkaran benih.

Di Ngari Taram dan Kabuapten Lima Puluh Kota, tanaman jagung dinilai lebih ekonomis. Sebab, pasar dekat dan terbuka luas. Selain itu, marginnya besar karena rantai tata niaga pendek. Harga jagung di nagari Taram saat ini Rp 5.000 per kg dengan kadar air (KA) kurang lebih 15 persen. Tiga tahun terakhir, produksi jagung Nagari Taram kurang lebih  2 ribu ton per tahun. Sedang kebutuhan 24 ribu ton per tahun. Dengan demikian terjadi defisit 22 ribu ton. Kekurangan ini disuplay dari daerah lain diluar Taram termasuk dari luar Kabupaten Lima Puluh Kota.

Sementara untuk kebutuhan beras, Nagari Taram cukup terpenuhi dari produksi petani lokal. Selama ini, terkait peningkatan produksi padi dan pendapatan petani padi, diakui program secara khusus dan langsung seperpti IPDMIP, belum ada dari pemerintah nagari.(Sesvil)  

banner 336x280
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.