banner 728x250

Pemuda Pemegang Kunci Mencegah Penyebaran HIV/AIDS

  • Share
banner 468x60

Sitinjausumbar.com — Menyambut hari AIDS sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember 2021, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Payakumbuh menggelar Forum Grup Discussion (FGD) di aula Hotel Flamboyan, Kamis (2/12).

Kegiatan yang bertema “Peran Pemuda Dalam Upaya Penanggulangan HIV/AIDS di Kota Payakumbuh” dibuka Wali Kota Riza Falepi diwakili Asisten II Elzadaswarman didampingi Kabag Kesra Irwan Suwandi, Kabid Kebudayaan Disparpora Riswandi, Sekretaris KPA Kota Payakumbuh Fahman Rizal, narasumber dr. Datri, dan Moderator Ade Vianora.

banner 336x280

Fahman Rizal dalam sambutannya menyampaikan peserta FGD adalah perwakilan organisasi masyarakat dan kepemudaan se Kota Payakumbuh. Melalui kegiatan ini diharapkan lahir solusi lebih jelas dan tepat sesuai sasaran dan bisa dikembangkan bersama. Muaranya, KPA bisa bersinergi bersama masyarakat untuk program kedepan dalam menanggulangi bahaya HIV/AIDS yang mengancam setiap orang, khususnya generasi muda di Kota Payakumbuh.

Dijelaskannya, bisa dilihat pada tahun 2021 kasus HIV/AIDS di Provinsi Sumatera Barat cukup tinggi, di Kota Payakumbuh ada 8 kasus ditemukan. Secara akumulatif dari 2018 hingga 2021 ada sekitar 46 kasus ditemukan di Kota Payakumbuh, setengahnya sudah meninggal dunia.

“Kita perkuat masyarakat dan parik paga nagari dengan gerakan penguatan sumber daya manusia, memantapkan pemahaman dan menyatukan persepsi akan bahaya HIV/AIDS,” ungkapnya.

Elzadaswarman alias Om Zet menyampaikan 3 tahun sebelumnya dia menjabat Kepala Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh sangat serius menangani permasalahan HIV/AIDS yang umumnya disebabkan oleh penyimpangan prilaku seksual, ini menjadi penyakitnya anak-anak muda.

“Hubungan seksual adalah kenikmatan duniawi, enak-enak tapi banyak resikonya bila dilakukan secara bebas. Resiko yang paling parah, mulai dari terinfeksi, hingga timbul gejela pertama, awalnya kita tidak mengetahui kalau sudah terjangkit, tapi tak lama semakin parah. Sampai saat ini tiada obat untuk HIV/AIDS, sekali kena artinya lah karam biduak,” kata Om Zet.

Om Zet menambahkan, HIV/AIDS ancaman yang berada di sekitar masyarakat. Penyakit ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Tapi, Kota Payakumbuh peduli, konsen dengan kasus ini. Menggagas gerakan deklarasi anti penyakit masyarakat, melarang seks bebas, hingga melarang prilaku menyimpang LGBT.

“Penyebab HIV/AIDS ini kebanyakan adalah masalah prilaku, resiko bukannya tidak ada, tapi tersembunyi hingga menjadi sebuah bahaya bagi kesehatan seseorang. Ancaman ini nyata bagi generasi muda karena berdasarkan data statistik, yang kena rata-rata orang berumur 20-35 tahun, karena di usia ini, memasuki fase puncak perkembangan seseorang,” kata Om Zet.

Om Zet juga menyampaikan apresiasi kepada KPA Kota Payakumbuh yang telah melaksanakan FGD ini, diharapkan anak-anak muda bisa aware betapa bahayanya HIV/AIDS.

“Jangan ragu dalam bertindak memerangi HIV/AIDS ini, bila kita menyatakan perang, maka insyaallah kita bisa membentengi lingkungan kita dari penyakit yang tidak ada obatnya ini,” kata Om Zet.

Sementara itu, dr. Datri dalam paparannya menyampaikan kasus HIV/AIDS ini seperti fenomena gunung es, kasus yang ditemukan belum seberapa dibanding pengidap HIV/AIDS yang sebenarnya. Virus HIV menyerang seseorang tanpa adanya gejala di awal, baru bisa diketahui saat sudah sakit parah dan melalui pemeriksaan secara medis, virus ini ditularkan melalui cairan tubuh seperti darah, cairan vagina, sperma, maupun dari ibu pengidap HIV yang hamil kepada anaknya.

“Pengidap HIV biasanya tidak menunjukkan gejala pada saat beberapa tahun sejak terinfeksi, namun setelah penurunan kekebalan tubuh terjadi, barulah penyakit-penyakit penyerta lain akan muncul dengan sendirinya, fase terkahir dari mengidap HIV adalah AIDS. Kalau sudah AIDS, pasien dipastikan sulit bertahan hidup lebih lama karena kondisi kesehatannya sudah memprihatinkan,” kata dr. Datri.

Di penghujung materinya, dr. Datri menghimbau masyarakat yang merasa pernah melakukan hubungan seks beresiko, atau yang pernah terjebak dengan masalah narkoba apalagi narkoba suntik untuk memeriksakan diri ke pusat pelayanan kesehatan.

“Untuk itu, membuka kasus ini butuh kesadaran masyarakat dengan selalu menjaga kesehatan dan memeriksakan diri ke pusat pelayanan kesehatan di puskesmas dan rumah sakit,” pungkasnya. (npb/btr)

banner 336x280
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *