banner 728x250

Menagih Kosep Utuh Pembangunan Komplek Makam Syekh Burhanuddin Ulakan

  • Share
banner 468x60

Oleh: Nofri Andy.N (Peneliti Minka Institute & Dosen IAIN Bukittinggi)

Penulis terenyuh melihat berita yang beredar di media social tentang pohon-pohon tumbang di tengah banyaknya jama’ah yang sedang beribadah dalam rangka basafa (memperingati haul Syekh Burhanuddin). Musibah ini juga menyebabkan jama’ah luka-luka sehinggakenyamanan dan keamanan dalam beribadah menjadi sedikit terganggu.

banner 336x280

Makam Syekh Burhanuddin sebagai simbol ulama yang menyebarkan Islam di Minangkabau seolah-olah jauh dari sentuhan pembangunan, walaupun ada namun rencana utuh mengenai konsep pembangunan juga belum jelas. Pembangunan hanya terlihat pada bagian-bagian kecil saja sehingga memunculkan persepsi masyarakat bahwa tidak ada keseriusan untuk memperhatikan komplek makam Syekh Burhanuddin untuk menata ulang dan mempercantik komplek makam tersebut.

Naif sekali kalau seorang tokoh atau ulama, pemikirandanajarannyatelahhidup di masyarakat bahkan menjadi pedoman dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah namun makamnya tidak diperhatikan. Banyak penelitian yang dilahirkan setelah mengkaji Syekh Burhanuddin dan konsistensi beliau dalam menyebarkan ajaran Islam sehingga mengantarkan seseorang menjadi sarjana, doktor bahkan professor.

Ketika kita menoleh dan berziarah ke makam ulama atau wali di daerah lain, banyak hal yang belum kita temukan di komplek makam Syekh Burhanuddin pada halus ia ulama tersebut dapat d ikat akan lebih tua. Makam Sunan Muria misalnya walaupun terletak di atas bukit dan harus bersusah payah kesana dengan menggunakan motor, namun ketika sampai di lokasi makam kita dapat melihat sarana prasarana yang lengkap seperti toilet yang banyak dan air yang cukup untuk bersuci bagi jama’ah. Begitu juga toko-toko yang ada bersusun rapi untuk menyediakan kelengkapan ziarah dan penyediaan souvenir.

Di Aceh pun tidak jauh berbeda, ketika kita berziarah ke makam Syekh Abdurauf As-Singkil yang berada di Kuala Banda Aceh. Kita dapat melihat lokasi yang luas dan tertata rapi serta dilengkapi dengan penginapan dan air yang cukup. Hal ini tidak akan tercapai tanpa adanya dukungan dari Pemerintah Kota Banda Aceh yang mengingkan daerah komplek makam menjadi destinasi wisata religi.

Perlunya perhatian terhadap pembangunan komplek makam menurut penulis perlu digiatkan karena renovasi dan pemugaran masih bersifat parsial. Pada tahun 2004 era Pemerintahan Megawati SoekarnoPutri, surau-surau kecil tempat menginap jamaah yang datang dari berbagai daerah di Padang Pariaman dan darek diratakan dengan alasan membangun surau yang lebih besar dan jama’ah dapat berkumpul bersama di dalamnya, namun mimpi tersebut belum terwujud hingga sekarang dan jamaah kehilangan surau yang dibangun dari dana yang dikumpulkan secara bersama. Renovasi kecil yang lain hanya terlihat pada sekitar makam dan belum terkesan menyeluruh, padahal jama’ah yang datang berasal dari berbagai propinsi di Indonesia bahkan dari mancanegara.

Pengelolaan dan penataan makam Syekh Burhanuddin menurut penulis perlu ditindaklanjuti karena Pesisir Selatan bisa menata kawan Mandeh dan Kota Padang menata kawasan pantai Padang, makam akam Syekh Burhanuddin sewajarnya mendapat perhatian penuh dari Pemerintah yang selalu mendukung jargon religius. (NA)

banner 336x280
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *