banner 728x250

Diduga Investasi Bodong, Korban Merugi Miliaran Rupiah

  • Share
banner 468x60

Sitinjausumbar – Diduga tertipu investasi bodong, berkedok pengelolaan mukena dan selendang, sebanyak 140 orang warga yang berasal dari berbagai daerah di tanah air, dan mengalami kerugian hingga miliaran rupiah, melapor ke Polisi.

Didampingi Pengacara dari Kantor Advokad/Pengacara M. Nur Idris & Associates, para korban sudah membuat Laporan Polisi ke Polda Sumbar, pada 28 Agustus 2021. “Kami telah mendampingi perwakilan korban untuk melaporkan kasus terkait dugaan penipuan investasi bodong, berkedok investasi pengelolaan mukena dan selendang ke Polda Sumbar minggu lalu,” kata M. Nur Idris, Rabu (8/9/21).

banner 336x280

Dalam Jumpa Pers di Kantor Advokat/Pengacara M. Nur Idris & Associates,
M. Nur Idris, M. Nur Idris, selaku Pengacara terhadao 140 orang korban investasi bodong itu, menyebutkan, bahwa ia sudah mendampingi kliennya melaporkan kasus dugaan penipuan dan penggelapan ini ke SPKT Polda Sumbar dengan Surat Tanda Terima Laporan (STTL) No.STTL/336.a/VIII/YAN/2002/SPKT-Sbr tanggal 28 Agustus 2021 di Padang.

“Yang kami laporkan itu, seorang perempuan berinisial RY (37), bersama beberapa orang pengelola investasi, yang kesemuanya merupakan warga yang berdomisili di Koto Hilalang Ampek Angkek Kabupaten Agam,” ujar M. Nur Idris.

Disebutkan, modus yang dilakukan terlapor bersama pengelola modal dengan menawarkan pengelolaan mukena dan selendang yang akan dijual ke Negara Malaysia dan Pusat Grosir Pasar Simpang Aur Kuning Bukittinggi. Terlapor menawarkan keuntungan mencapai 40 persen dari modal yang diinvestasikan l, dan diberikan setiap bulannya.

Kegiatan investasi ini, menurut M. Nur Idris, sudah dilakukan sejak awal tahun 2020 sampai Juli 2021. “Jadi misalnya, investasi dengan modal Rp 100 juta maka akan diberikan keuntungan sebanyak 40 persen atau Rp 40 juta pada bulan berikutnya. Atau modal investasi Rp 2 juta akan diberikan keuntungan Rp 800 ribu. Dimana keutungan diberikan namun modal tetap disimpan sebagai modal selanjutnya oleh terlapor bersama pengelolanya,” sebut M. Nur Idris, sambil menerangkan skema pembagian hasil investasi.
 
Idris menjelaskan, awal pertama pembuatan Surat Perjanjian Kerjasama (SPK) pemberian keuntungan berjalan lancar. Namun, beberapa bulan kemudian setelah ada investor yang mengulang atau menambah modal periode berikutnya, keuntungan tidak ada lagi diberikan dengan alasan pandemi covid atau uang belum dibayar pembeli.
 
Karena terlapor tidak ada lagi memberikan keuntungan, maka beberapa investor mencoba menghubungi pengelola namun tidak mendapat jawaban. Hingga awal tahun 2021 beberapa orang investor mendatangi rumah terlapor di Koto Hilalang, Agam.

Ternyata, investasi pengelolaan mukena dan selendang itu tidak ada sama sekali alias bodong. Yang terjadi adalah skema money game atau permainan uang, dimana uang modal investor satu untuk menutupi uang investor lain.
 
Adapun besaran kerugian yang dialami korban, dilihat dari SPK sebagai bukti ada yang mengalami kerugian mulai dari Rp 2 juta sampai Rp 600 juta untuk satu orang investor.

Menyangkut model kerja pengelola ini dengan cara menghubungi calon investor lewat handphone dan WhatsApp dengan tawaran dan iming-iming melalui pertemanan adik dari terlapor RY.
 
“Jadi bukan terlapor RY yang langsung menghubungi investor tapi lewat orang lain (seller) yakni adik dari RY yang bertugas menghubungi korban dimana rata-rata adalah temannya semasa kuliah dulu. Makanya ada korban yang berdomisli di Kota Bukittinggi, Padang serta berbagai daerah lain di luar Sumbar seperti Jakarta, Bandung, Tanggerang, Depok, Bekasi, Banten, Jambi, Lampung, Riau dan Kalimantan,” sebut Idris.

Dia memperkirakan jumlah korban investasi bodong yang dikelola RY bersama seller atau orang lain yang membantunya mencapai 500 orang korban. Sementara yang ia damping saat ini berjumlah 140 orang yang rata-rata adalah teman-teman dari adik dan saudara RY.

Untuk menguatkan laporan ini Tim Hukum Investor sudah menyerahkan bukti-bukti berupa SPK sebagai tanda bukti penyerahan uang, rekaman pembicaraan dan chat WhatsApp sebagai penawaran, serta foto-foto barang dan usaha pembuatan mukena yang ternyata semuanya fiktif. Idris berharap, pihak Polda Sumbar segera memanggil para terlapor bersama seller untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. (rul)

banner 336x280
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *