banner 728x250

Antara Guru dan Murid Dalam Perspektif Nilai, Sebuah Renungan di Pagi

  • Share
banner 468x60

Oleh:  Prof.Dr.H.Asasriwarni (Guru Besar UIN IB/Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sumbar)

Mengapa?  Sampai  kapanpun seorang guru tetaplah guru, sementara murid senantiasa dinamis tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi dan tempaannya.

banner 336x280

Hal itu, bisa diilustrasikan dalam sebuah diskusi “Antara Murid dan Guru” di bawah ini : 

1. Murid :

Murid bertanya, jika memang benar para guru adalah orang-orang yang pintar, mengapa bukan para guru yang menjadi pemimpin dunia, pengusaha sukses, dan orang-orang kaya raya itu ?

Guru :

Sang Guru pun  tersenyum, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia masuk ke ruangannya, dan keluar kembali dengan membawa sebuah timbangan.

Ia meletakkan timbangan tersebut di atas meja, dan  berkata : Wahai muridku, ini adalah sebuah timbangan, yang biasa digunakan untuk mengukur berat emas dengan kapasitas hingga 5000 gram

Guru bertanya,  berapa kira-kira harga emas seberat itu, muridku ?

2. Murid :

Murid mengernyitkan keningnya, menghitung dengan kalkulator dan kemudian ia menjawab.

Jika harga satu gram emas adalah 800 ribu rupiah, maka 5000 gram akan setara dengan nilai 4 milyar rupiah.

Guru :

Sang Guru pun menjawab :  baiklah muridku. Sekarang coba bayangkan seandainya ada seseorang yang datang kepadamu membawa timbangan ini dan ingin menjualnya seharga emas 5000 gram, adakah yang bersedia membelinya ?

3. Murid :

Lalu Murid pun  berkata : Timbangan emas tidak lebih berharga dari emasnya. Saya bisa mendapatkan timbangan tersebut dengan harga dibawah dua juta rupiah. Dan  mengapa harus membayar sampai senilai 4 milyar rupiah ?

Guru :

Guru menjawab : Nah, muridku, kini kau sudah mendapatkan pelajaran, bahwa kalian para murid, adalah seperti emas dan kami para guru adalah timbangan yang berfungsi membobot  prestasimu.  Kalianlah yang seharusnya menjadi perhiasan dunia ini, dan biarkan kami tetap menjadi timbangan yang akurat dan presisi untuk mengukur kadar kemajuanmu.

Kemudian Sang Guru pun  bertanya lagi : Jika ada seseorang datang kepadamu membawa sebongkah berlian di tangan kanannya dan seember keringat di tangan kirinya, kemudian ia berkata : Di tangan kiriku ada seember keringat yang telah aku keluarkan untuk menemukan sebongkah berlian yang ada di tangan kananku ini. Dan tanpa keringat ini tidak akan ada berlian,  maka belilah seember keringat ini dengan harga yang sama dengan harga sebongkah berlian ini.

Apakah ada orang yang mau membeli keringat ini?  Tentu tidak ada, ujar Sang guru lagi.

Orang hanya akan membeli berliannya dan mengabaikan keringatnya. Biarlah kami para guru,  menjadi keringat itu, dan kalianlah para murid  yang menjadi berliannya.

4. Murid :

Mendengan kata-kata terakhir Sang Guru.

Sang murid pun tak kuasa menahan tangisnya. Ia memeluk Sang Guru dan berkata : Wahai guruku, betapa mulia hati kalian, dan betapa ikhlasnya kalian, terima kasih guruku. Kami tidak akan bisa melupakan jasa-jasa kalian, karena dalam setiap kemajuan yang kami raih, setiap kilau berlian yang kami capai, ada tetes keringatmu … Wahai guruku …

Guru :

Lalu, Sang Guru berkata : Biarlah keringat itu menguap, mengangkasa menuju alam hakiki disisi Illahi Rabbi. Mengapa begitu ? karena : hakikat akhirat lebih mulia dari segala pernak-pernik yang ada di dunia ini.

Semoga hidup kita semakin bermanfaat dan berkah, aamiin YRA. Untuk semua guruku, wabil khusus guru ngajiku.  Terima kasih atas segenap perjuanganmu yang telah mendidikku.

Barakallohu fiikum jami’an. Salam hormat dan sungkem, ku persembahkan kepada yang mulia para guru ku,  semoga hidupmu penuh dengan kemuluaan, aamiin … aamiin…Aamiin Ya Robbal ‘Alamiin.***

banner 336x280
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *