banner 728x250

Benarkah Adab Lebih Mulia Dari Pada Ilmu? Perhatikan Pendapat Para Ulama

  • Share
banner 468x60

Oleh: Prof.Dr.H.Asasriwarni Guru Besar UIN IB/Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sumbar

A. Pendapat para ulama tentang adab  dan ilmu :

banner 336x280

1. Ibnu MUBAROK رحمه الله تعالى:

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﺒﺎﺭﻙ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ﻧﺤﻦ ﺇﻟﻲ ﻗﻠﻴﻞ ﻣﻦ ﺍﻷﺩﺏ ﺃﺣﻮﺝ ﻣﻨّﺎ ﺇﻟﻲ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻢ . ﺍﮬــ >> ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ ﺍﻟﺴﻮﻱ

Ibnu Mubarok رحمه الله تعالى  berkata : kami lebih butuh sedikitnya adab yang dapat kami peroleh di banding kan dari pada banyak nya ilmu…

2. Al Imam Syafi’i رحمه الله تعالى :

ﻛﺎﻥ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳﻘﻮﻝ : ﻗﺎﻝ ﻟﻲ ﻣﺎﻟﻚ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ﻳﺎ ﻣﺤﻤﺪ ، ﺇﺟﻌﻞ ﻋﻠﻤﻚ ﻣﻠﺤﺎ ﻭﺃﺩﺑﻚ ﺩﻗﻴﻘﺎ . ﺍﮬــ >> ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ ﺍﻟﺴﻮﻱ

Al Imam Syafi’i رحمه الله تعالى  berkata :  Imam MALIK berkata kepadaku : wahai Muhammad, jadikanlah ILMUmu itu seperti garam dan jadikanlah ADABmu seperti tepung..

3. Abdurrahman Bin Qosim  رحمه الله تعالى_:

ﻗﺎﻝ ﻋﺒﺪﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ : ﺧﺪﻣﺖ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻣﺎﻟﻜﺎ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻋﺸﺮﻳﻦ ﺳﻨﺔ، ﻓﻜﺎﻥ ﻣﻨﻬﺎ ﺳﻨﺘﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺛﻤﺎﻧﻲ ﻋﺸﺮﺓ ﺳﻨﺔ ﻓﻲ ﺗﻌﻠّﻢ ﺍﻷﺩﺏ، ﻓﻴﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﺟﻌﻠﺖ ﺍﻟﻤــــﺪﺓ ﻛﻠﻬـﺎ ﺃﺩﺑﺎ . ﺍﮬـــ >> ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ ﺍﻟﺴﻮﻱ

Abdurrahman Bin Qosim berkata : Aku pernah khidmat kepada IMAM MALIK selama 20 thn, dan dari 20 tahun itu hanya 2 tahun aku belajar ILMU dan 18 tahun nya saya belajar ADAB, setelah saya mengetahui ilmu adab (akhlaq), saya berangan angan menjadikan semuanya untuk belajar akhlaq.

B. Adab  yang dipelajari selama 18 tahun adalah :

1. Ucapan  Bermanfaat

Dalam kamus seorang Muslim, hanya ada dua pilihan ketika hendak berbicara   dengan orang lain, yaitu : Mengucapkan sesuatu yg baik atau memilih diam. Hal ini dengan sabda Rasulullah ﷺ dalam hadits di bawah ini :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam. (HR. Al-Bukhari No. 6018 dan Muslim No.47)

2. Bernilai Sedekah

Dalam Islam setiap organ tubuh manusia mempunyai niai sedekah. Menjadi bernilai atau tidak sangat tergantung kepada adab kita dalam memanfaatkannya.  Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ dalam hadits di bawah ini :

كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ، تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تََمْشِيْهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيْطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ

Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bersedakah setiap harinya mulai matahari terbit. Memisahkan (menyelesaikan perkara) antara dua orang (yang berselisih) adalah sedekah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Berkata yang baik juga termasuk sedekah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah shadaqah. (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Menjauhi Pembicaraan Sia-Sia

Sebaiknya menghindari pembicaraan yang dapat berujung kepada kesia-siaan dan dosa semata. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ dalam hadits di bawah ini :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُكْثِرُوا الْكَلَامَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلَامِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْ اللَّهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي

Dari Ibnu Umar berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda : Janganlah kalian banyak bicara tanpa berdzikir kepada Allah, karena banyak bicara tanpa berdzikir kepada Allah membuat hati menjadi keras, dan orang yang paling jauh dari Allah adalah orang yang berhati keras. (HR Tirmidzi).

‎4. Tidak Terperangkap Ghibah

Membicarakan sesuatu yang benar saja bila orang yang dibicarakan mendengar menjadi marah itu adalah dosa besar, apalagi membicarakan sesuatu yang tidak benar. Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT  di bawah ini :

 يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اجْتَنِبُوْا كَثيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمُ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُم أَنْ يَأكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۚ وَاتَّقُوْا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوّابٌ رَحيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari kesalahan orang lain dan jangan di antara kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? tentu kalian akan merasa jijik. Bertakwalah kalian pada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat  Ayat : 12).

5. Stop Mengadu Domba

Begitu besarnya dosa orang yang mengadu domba sesama, sampai2   diancam tidak akan masuk surga bagi orang yang mengadu domba sesamanya. Hudzaifah Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, bahwa ia  mendengar Rasulullah  ﷺ bersabda sbb :

عَنْ حُذَيْفَةَ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَجُلاً يَنِمُّ الْحَدِيثَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ ».

Dari Hudzaifah, beliau menerima laporan ada tukang adudomba. Ia mengatakan : aku mendengar Rasulullah bersabda, Pelaku adu domba tidak akan masuk surga. (HR Muslim No. 303).

6. Stop berbohong

Islam menganjurkan umatnya untuk selalu jujur dan  melarang keras  untuk berbohong. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ dalam hadits di bawah ini :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong). (HR.  al-Bukhâri No. 6094).

7. Menghindari Perdebatan

Islam melarang di antara sesama muslim saling berbantah-batahan, sebab hak tersebut bisa menimbulkan retaknya tali silaturahmi. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ dalam hadits di bawah ini :

عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِيْ رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِيْ وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِيْ أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ. رواه ابوداود.

Dari Abu Umamah, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bersifat gurau. Dan aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik.  (H.R. Abu Daud).

8. Tak Memotong Pembicaraan

Memotong pembicaraan orang adalah sebuah kebiasaan yg kurang sopan dan itu dilarang oleh Islam. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ dalam hadits di bawah ini :

إذا قلتَ للناسِ أَنصِتوا و هم يتكلَّمون ، فقد ألْغَيْتَ على نفسِك

Jika engkau mengatakan ‘diamlah!’ kepada orang-orang ketika mereka tengah berbicara, sungguh engkau mencela dirimu sendiri.  (HR. Ahmad 2/318, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 1/328).

9. Pandai Menjaga Rahasia

Seorang muslim berkewajiban menutupi aib sesamanya dan Allah berjanji barang siapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah akan nenutupi aibnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ dalam hadits di bawah ini :

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ فِي الدُّنْيَا يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya. (HR. Tirmidzi).

‎10. Stop saling mengolok dan memanggil dengan gelar yang buruk.

Memanggil dengan  nama yang baik adalah sebuah kewajiban dan mengolok-olok dengan panggilan yang jekek adalah sesuatu yang dilarang. Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT  di bawah ini :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al Hujarat Ayat : 11).

11. Stop menyakiti hati orang lain

Berhentilah menyakiti orang lain,  berbuatlah jujur dan bertutur kata yang baik serta tahan emosi pada saat mau marah.

وَفَرْضُ اللِّسَانِ الصِّدْقُ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ وَكَفِّ الْأَذَى فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ وَتَرْكُ التَّزَيُّدِ بِالْخَيْرِ وَالشَّرِّ

Dan Kewajiban Lisan : yaitu jujur dalam keadaan senang maupun marah; Menahan Dari Menyakiti :  dalam keadaan sendirian maupun ramai; dan Meninggalkan Berlebihan :   dalam perkataan baik maupun Perkataan buruk. (رسالة المسترشدين, , 116).

Banyak dari kita yang masih jauh dari ketentuan-ketentuan di atas. Oleh karena itu, seraya memperbaiki diri, kita mesti melatih untuk menjaga Sikap, lisan , dan perilaku kita, baik sebagai murid dan juga sebagai guru.

والله اعلم بالصواب

semoga ahklaq kita mampu menjadi pengendali ilmu kita, aamiin YRA.

banner 336x280
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *