banner 728x250

Mulia Karena Bekerja Keras

  • Share
banner 468x60

Oleh : Armaidi Tanjung (Wartawan, tinggal di Kabupaten Padang Pariaman)

Setiap manusia diberi jatah waktu yang sama oleh Allah Swt. Dalam sehari-semalam, yakni 24 jam. Namun perlakuan manusia terhadap waktu jelas amat berbeda satu sama lain. Ada manusia yang menghabiskan waktu hanya untuk bermain, santai, duduk kumpul-kumpul, bergadang, belajar, bekerja dan seterusnya.

banner 336x280

Bukan pemandangan yang sulit mencari pemuda-pemuda yang menghabiskan waktunya bersantai, duduk di warung yang terkadang diselingi main kartu/domino, atau sekedar ngobrol (mangota) kian kemari. Tidak tanggung-tanggung, pembicaraan sudah berskala nasional, berbagai isu-isu menarik menjadi perbincangan hangat.

Jika dilihat dari postur fisiknya, mereka tergolong sehat, bugar, kuat dan mampu bekerja. Tapi toh, mereka merasa enggan melakukan sesuatu pekerjaan yang bermanfaat dalam hidupnya. Tidak ada kemauan dan semangat melakukan sesuatu yang bermanfaat dan bisa dinikmati di kemudian hari. Bayangkan jika ada tanah/lahan kosong, ditanam satu tanaman, yang pada waktunya akan menghasilkan.

Teringat ketika masih kecil, Penulis menyaksikan  kakek (penulis memanggilnya Abak)  yang masih menanam kelapa. Menurut ukuran waktu, kelapa itu pasti saja tidak akan bisa dinikmatinya, karena keburu wafat. Kenyataannya memang, kakek wafat sebelum kelapa itu berbuat. Penulis kira, kakek-kakek yang lain juga melakukan yang sama. Mereka menanam bukan hanya untuk mengharapkan hasilnya akan diperolehnya. Tapi yang mereka lakukan adalah bekerja, bekerja, bekerja. Hasilnya, walau tidak bisa dinikmatinya jika sudah berbuah karena sudah wafat, tapi pasti kelapa yang ditanam akan berbuah. Buahnya bermanfaat bagi kehidupan anak cucu yang ditinggalkan.

Lha, generasi muda kita kini sudah tamat sekolah, bahkan banyak yang sarjana, kurang mau memanfaatkan waktunya untuk bekerja.  Lebih ironis lagi, sudah berkeluarga masih enggan bekerja. Toh, bekerja bukan hanya sebagai pegawai di kantoran. Masih banyak peluang dan kesempatan bekerja sesuai dengan kondisi di lingkungan sekitarnya. Kalaupun masih sulit lapangan pekerjaan di kampung halaman, bisa pergi merantau  ke kota lain sebagaimana banyak yang dilakukan orang lain.

Bila bersandarkan dari  agama Islam, maka diajarkan  untuk selalu beramal dan bekerja. Artinya bekerja untuk dunia, sekaligus untuk akhirat (amal).  Bekerja  dengan sungguh-sungguh (mujahadah) dalam melaksanakan berbagai ikhtiar dan tugas, baik berhubungan dengan Allah SWT (hablumminallah) maupun berhubungan dengan manusia/tugas-tugas kemasyarakatan (hablumminannas). Motivasi bekerja keras merupakan bagian dari amal ibadah jika dilandasi dengan nilai-nilai agama. Apalagi bagi seorang pemimpin yang mempengaruhi semua warganya, tentu juga membawa kebaikan bagi orang banyak.

Bekerja dalam ajaran Islam adalah manifestasi dari iman. Bekerja keras bagi umat Islam adalah sebagai bagian dari ibadah.

Ada suatu riwayat mengisahkan, suatu hari Nabi Muhammad Saw. berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari. Ketika itu Rasul melihat tangan Sa’ad melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.

“Kenapa tanganmu?” tanya Rasul kepada Sa’ad.

“Wahai Rasullullah,” jawab Sa’ad, “Tanganku  seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”. Seketika itu Beliau mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, “Inilah tangan yang tidak akan  pernah tersentuh api neraka.”

Riwayat tersebut menunjukkan  betapa mulia ajaran Islam tentang bekerja keras. Dengan motivasi ibadah, bekerja akan melahirkan buah karya terbaik.

Dalam sejarah Nabi Muhammad Saw, dikisahkan pada masa muda Nabi SAW. adalah seorang pedagang yang ulet, berdagang jauh sampai ke negeri Syam. Berkat kerja keras itu usaha dagang Rasulullah berkembang. Usaha perdagangan Beliau mendapatkan keuntungan besar. Sehingga  pemilik usaha dagang yang dibawa Beliau,  Khadijah  menjadi tertarik  dengan sistem kerja dan kejujurannya. Akhirnya menjadi isteri Beliau.

Namun jauh sebelum Nabi Muhammad Saw., para Nabi dan Rasul juga sudah mengajarkan  tentang etos kerja. Nabi Nuh misalnya, pandai membuat kapal, Nabi Musa seorang pengembala, Nabi Sulaiman seorang insiyur yang hebat, Nabi Yusuf seorang akuntan, Nabi Zakaria seorang tukang kayu, Nabi Isa seorang tabib yang mumpuni. Walaupun mereka  sebagai seorang Nabi dan Rasul, tetap bekerja dan  menjaga etos kerja.

Jadi sungguh tidak tepat jika masih ada yang malas bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Betapa mulianya seseorang yang bekerja membanting tulang untuk membebaskan diri dan keluarganya dari kemiskinan dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Sudah pasti, mereka yang berhasil dan sukses dalam hidupnya adalah mereka yang rajin belajar dan bekerja keras. Tidak ada keberhasilan yang dicapai dengan tanpa kerja keras. Apa pun mimpi indah yang ingin jadi kenyataan, haruslah kerja keras. Selamat pada mereka yang berhasil dari hasil kerja kerasnya. Salam. (Pernah dimuat di majalah Tabuik edisi 19/triwulan3/2014).

banner 336x280
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *