banner 728x250

Peluang dan Tantangan Pengembangan Bumdes/Bumnag

  • Share
banner 468x60

Oleh: Zeki Aliwardana,S.Pd.I.MM (aktivis muda Nahdlatul Ulama Padang Pariaman)

Berangkat dengan gerakan membangun dari pinggir oleh Pemerintah Pusat untuk daerah tinggkat desa dan nagari. Desa dan nagari  dijadikan primadona dalam membangun masyarakat menggali sumber daya manusia, sumber daya alam di desa dan nagari guna meningkatkan taraf hidup masyarakat kecil. Hal ini tentu tertuang harapan bagi kepala desa dan walinagari bersama perangkatnya selaku eksekutor dalam melaksanakan program tersebut. Dimana  Pemerintah pusat dan daerah telah bersinergisivitas dalam memberikan alokasi anggaran desa dan nagari, agar semua yang menjadi gagasan dan kreativitas serta inovasi masyarakat desa dapat diwujudkan.

banner 336x280

Dengan lahirnya Undang Undang Desa nomor 6 tahun 2014 sebagai payung hukum serta acuan bagi pemrintah daerah untuk nagari dan desa masing-masing. Hal ini telah memberikan kesempatan dan peluang seluas-luasnya bagi desa dan nagari  berinovasi untuk masyarakatnya. Baik dalam bidang penyelenggaraan pemerintahan, pemberdayaan, pembinaan serta pembangunan infrastruktur di desa dan nagari. Harapan ini tentu kepala desa dan walinagari mampu menterjemahkan lebih luas, agar apa yang menjadi tujuan dari misi pemerintah pusat bisa tercapai.

Tetapi menurut pantauan penulis, kepala desa dan walinagari seolah-olah gagap dalam menjalankan misi tersebut. Sehingga perjalanan dalam membangun serta memberdayakan misi tersebut terlihat biasa-biasa saja. Sangat disayangkan lagi dimana sebuah program desa dan nagari yang telah diberikan kewenangan untuk membuat  apabila dilaksanakan sesuai dengan petunjuk,munkin sudah tercipta desa/nagari mandiri karena program ini sudah berjalan beberapa tahun yang lalu. Dengan program Bumdes/Bumnagnya dimana ini merupakan sebuah peluang dan kesempatan bagi desa/nagari untuk tumbuh, maju dan menggali potensi yang ada di desa/nagari.

Namun momentum ini hilang. Kegagapan dalam mengelolanya  terkesan ada egosentris bagi kepala desa/walinagari, tidak proposional menunjuk dan menempatkan pengurus bumdes/bumnag tersebut. Maka banyak yang mandul, tidak berfungsi, rendahnya managemen dan gagasan dalam membangun usaha melalui lembaga tersebut. Dimana dengan sudah disiapkannya modal awal 20% – 30% dari anggaran dana desa itu sendiri, bisa dipakai dan ditempatkan sebagai modal setiap tahun anggaran bagi bumdes/bumnag.

Hari ini apa yang terjadi dana itu mengedap tidak terpakai. Kebingungan mau usaha apa. Maka disini dapat dilihat bahwa kemampuan entrepreneurship,  mengurus dan berwirausahanya sangat rendah. Pada hakikatnya kalau ini dikelola dengan baik dan proposional,  diberikan kesempatan pada angkatan muda tanpa intervensi tentu anak muda di desa lebih bisa berinovasi, berkreativitas dan produktif. Sehingga bisa menjawab apa yang menjadi kelemahan dan kekurangan bagi pemerintah desa/nagari bisa di atasi.

Bumdes/Bumnag merupakan badan usaha yang diakui oleh pemerintah pusat dan daerah. Bahkan bisa dikerjasamakan dengan   Badan Usaha Milik Negara, jika pengurus bumdes/bumnagnya punyab talenta dibidang tersebut. Tetapi kenapa lembaga ini tidak digarap secara serius? Ada apa dibalik semua ini. Apa karena tidak paham dan mengerti cara pengelolanya atau memang pemerintah desa/nagari tidak mampu memberikan amanah ini kepada warganya yang lebih punya wawwasan tentang dunia usaha. Atau tidak punya kemampuan membaca peluang ini serta tidak siapnya bersaing di dunia bisnis/usaha. Sehingga muncul keragu-raguan untuk berbuat. Kalau hal ini yang terjadi maka sebuah momentun yang dilewatkan begitu saja serta peluang dan kesempatan yang disepelekan bagi kepala desa/wali nagari. Sehingga masyarakat menjadi korban atas sikap tersebut. ***

banner 336x280
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *