banner 728x250

Belajar dari Bung Hatta dan KH Hasyim Asy’ari

  • Share
banner 468x60

Oleh: Armaidi Tanjung

Dua tokoh yang terlahir dari rahim Indonesia dalam perjalanan masa pendidikannya, bertahun-tahun berada di negeri orang. Meski bertahun di sana, keduanya tetap menjadi jati dirinya sebagai orang Indonesia. Bahkan dikemudian hari, mereka menentang bangsa dimana beliau menuntut ilmu. Keduanya adalah  Mohammad Hatta yang dikenal dengan Bung Hatta dan KH Hasyim Asy’ari.

banner 336x280

Bung Hatta dikenal dengan tokoh proklamator  bangsa Indonesia. Karena beliau bersama Soekarno mengatasnamakan kemerdekaaan Indonesia. Bung Hatta kelahiran 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, dari pasangan Haji Mohammad Jamil dan Siti Saleh. Haji Mohammad Jamil berasal dari Batuhampar, dekat Kota Payakumbuh, anak dari Syekh Arsyad, seorang guru agama yang cukup di kenal. Sedangkan Siti Saleha, asli Kota Bukittinggi. Ayahnya bernama Ilyas Bagindo Marah, seorang pedagang. Hatta sendiri anak kedua, kakaknya perempuan bernama Rafi’ah. Umur tujuh tahun, ayahnya meninggal. Saat itu ayahnya berumur 30 tahun. Kemudian Ibu Saleha kawin dengan Mas Agus Haji Ning, pedagang dari Palembang. Sebelumnya sudah sering berhubungan dagang dengan Ilyas Bagindo Marah.

Hatta menempuh pendidikan di sekolah rakyat (sekarang sekolah dasar). Kemudian melanjutkan ke Europese Lagere School (ELS), sekolah Belanda. Tamat ELS tahun 1916, Hatta melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) di Padang. MULO setingkat SMP sekarang. Selanjutnya Hatta ke Jakarta masuk sekolah Prins Hendrik School (PHS). Tentu saja selama sekolah tersebut, sebagian besar gurunya adalah orang-orang Belanda. Ia bergaul dengan anak-anak Belanda di sekolah. Sehingga Bung Hatta tidak lagi memusuhi orang Belanda sebagai manusia. Tetapi sebagai bangsa penjajah negerinya, Hatta tetap membenci Belanda.

Selanjutnya Hatta melanjutkan pendidikannya ke negeri Belanda, negeri bangsa yang sudah menjajah negerinya bertahun-tahun. Tidak tanggung-tanggung, selama sebelas tahun lamanya Hatta tinggal di negeri Belanda. Meski sebenarnya Bung Hatta dapat saja menyelesaikan kuliahnya dalam beberapa tahun saja. Tapi ada dua hal yang menyebabkan kuliahnya terlambat diselesaikan. Pertama, karena pindah jurusan. Kedua, karena ia sibuk dalam organisasi. Hatta kuliah pada Handels Hoogere School (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam. Jurusan pertama dipilihnya ekonomi perdagangan. Dua tahun kemudian, pindah ke jurusan ekonomi kenegaraan. Sampai di Belanda, Hatta aktif di organisasi mahasiswa Indonesia. Berorganisasi sangat berpengaruh terhadap Bung Hatta. Selesai kuliah tahun 1932 meraih sarjana ekonomi, Hatta pulang ke Indonesia. Banyak bekal yang dibawa dari negeri Belanda. Hatta menjadi Wakil Presiden RI pertama mendampingi Presiden Soekarno. Hatta wafat pukul 18.45 WIB 14 Maret 1980  di Jakarta di usia 78 tahun.

Selanjutnya, ulama kharismatik, Hadratus Syeikh KH.M. Hasyim As’ari, pendiri Nahdlatul Ulama organisasi Islam terbesar saat ini di Indonesia, lahir 14 Februari 1871 M/24 Dzulqa’idah 1287 H di Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur. Ayahnya Kiai Asy’ari dan ibunya Halimah. Ibunya yakin anaknya bakal menjadi orang hebat, kandungannya mencapai 14 bulan. Ia juga bermimpi bulan purnama jatuh dari langit dan menimpa perutnya.

Sejak kecil terbiasa mengikuti pelajaran agama dari orangtuanya di Pondok Gedang, yang didirikan kakeknya. Dalam usia 14 tahun, berkelana dari pesantren ke pesantren. Mulai dari Pondok Wonokoyo (Probolinggo), Langitan (Tuban), Trenggilis (Semarang), ke Syaichona Cholil di Demangan (Bangkalan-Madura), Siwalanpanji (Sidoarjo). Kemudian, Hasyim melanjutkan pendidikan ke Mekah, bermukim hingga tujuh bulan. Kembali ke tanah air, namun tidak lama. Tahun 1893 Hasyim kembali ke Makkah melanjutnya pendidikan. Hasyim bermukim selama tujuh tahun belajar agama Islam di Makah. Diantara gurunya di Makah, Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syeikh Nawawi Banten, dan Syeikh Mahfudz at-Tarmisi (Pacitan). Ia juga belajar kepada belasan ulama lainnya.

Pulang dari Makkah, Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama tahun 1926 bersama ulama lainnya. Tahun 1942, diangkat Pemerintahan Jepang menjadi Ketua Shumubu (kantor urusan agama, cikal bakal Kementerian Agama) di Jakarta, membawahi cabang Shumubu seluruh Indonesia. Menjadi penasehat utama Jawa Hokokai bersama Ir. Soekarno (1944). Wafat 21 Juli 1947, Pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Cucunya, KH. Abdurrahman Wahid menjadi Presiden Republik Indonesia ke empat.

Kedua tokoh ini memiliki kesamaan yang selalu menjunjung tinggi nasionalisme, memperjuangkan negara kebangsaan Indonesia dari bangsa penjajah, selalu meletakkan kepentingan bangsa Indonesia diatas kepentingan pribadi maupun kelompok. Apa pun alasannya, kepentingan bangsa Indonesia selalu di kedepannya.

Meski keduanya bertahun-tahun di negeri orang, tapi tidak membuat tercerabut dari akar budayanya. Hatta menggugat kehadiran pemerintahan Belanda di Indonesia. Hatta menolak habis-habis kekuasaan Belanda di Indonesia. Jangankan kepentingan Belanda, diajak kerjasama untuk tetap Belanda berkuasa di Indoneisa, ditolak Hatta. Dalam keseharian, Hatta tidak terpengaruh dengan pola hidup bangsa Belanda, tidak kebarat-baratan. Sepanjang hidupnya, Hatta tetap sederhana, istiqamah, menolak hidup dari harta yang tidak jelas. Padahal sebagai tokoh proklamator, mantan Wakil Presiden, dirinya bisa saja mendapatkan fasilitas lebih dari negara. Tapi itu tidak dilakukan Hatta. Sesudah Hatta, banyak putra Indonesia yang (di)sekolah(kan) ke barat, pulangnya sudah bak ditusuk hidungnya oleh Barat. Teori, praktek dan kepentingan Barat-pun dimanfaatkan untuk melindas rakyatnya sendiri.

Begitu pula Kiai Hasyim, ketika penguasa jazirah Mekah akan memperlakukan satu paham kelompok Islam saja yang dibolehkan di Mekah, maka Kiai Hasyim membentuk Komite Hejaz yang melakukan protes kepada penguasa Mekah. Di saat penguasa Mekah akan meruntuhkan makam-makam bersejarah, termasuk makam Nabi Muhammad Saw. bakal dihancurkan, maka Kiai Hasyim mengirimkan delegasi ke Mekah. Yang lebih penting lagi, pulang dari Arab, Kiai Hasyim tidak menjadikan kesehariannya seperti orang Mekah (Arab). Hasyim tidak pakai sorban seperti sorbannya orang Arab. Artinya Hasyim tetap tampil sebagaimana orang Indonesia, tidak mau tampil kearab-araban karena pernah bertahun-tahun di Arab.

Namun kini banyak orang yang beberapa waktu saja di Arab, pulangnya sudah tampil seperti orang Arab. Bahkan ada pula yang belum pernah sekali pun ke Arab, tapi memaksa diri tampil seperti orang Arab. Pengetahuan agama Islamnya, belum seberapa dibanding Kiai Hasyim As’ayari. Tapi mereka pun ngotot menyuruh orang lain tampil seperti dirinya yang kearab-araban. Mereka keliru memahami antara budaya Arab dengan ajaran Islam. Dikiranya, semua yang dilakukan (budaya) bangsa Arab, adalah Islam. Sehingga kita yang di Indonesia pun harus tampil seperti orang Arab agar menjadi umat Islam yang sesungguhnya. ***  Tulisan ini sudah pernah dimuat majalah Tabuik edisi 25/Triwulan I/2016

banner 336x280
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *